Ukuran yang paling dasar yang sering dipakai oleh manusia untuk menyatakan bahwa seorang ini hidup layak atau tidak adalah masalah apakah seorang ini mendapatkan atau memiliki kecukupan dalam hal sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (rumah) serta kesejahteraan dan keamanan. Maaf, kalau itu yang menjadi ukurannya, berarti, sekali lagi maaf, banyak orang yang belum yang belum menikmati kelayakkan hidup. Tetapi, apakah ukuran itu juga yang dipakai oleh Allah? Ternyata tidak, Allah pribadi yang mutlak untuk memberikan penilaian yang benar, menilai seseorang memiliki kelayakan hidup jikalau dia selalu mengasihi, menggantungkan, atau mengandalkan hidupnya kepada Allah.
Mazmur 146 memberitahukan kepada kita bahwa seharusnya kelayakan hidup itu menjadi milik semua orang jikalau semua orang menjadi milikNya Tuhan dan selalu hidup dekat dengan Tuhan. Mengapa?
- Karena Tuhan Allah (dalam Tuhan Yesus) adalah sumber keselamatan.
Pemazmur menyatakan bahwa Allah-lah penyelamat dan pembebas sejati, bukan manusia termasuk juga para bangsawan Inilah awal mula hidup baru yang layak di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa apa artinya seseorang memiliki harta di dunia jikalau ia kehilangan nyawanya. Raja Alexander Agung pernah berkata bahwa manusia lahir dengan tangan kosong pada waktu mati pun akan pulang dengan tangan kosong. Jadi yang akan dinilai Allah adalah apakah orang tersebut sudah menjadi milik Tuhan atau belum, bukan seberapa besar kekayaan, kedudukan yang dia dapatkan selama berada di dunia. Jikalau seseorang sudah diselamatkan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dia sudah mendapatkan kelayakan hidup di hadapan Tuhan.
- Karena Tuhan Allah sumber pengharapan dan pertolongan.
Pemazmur menggambarkan Allah pencipta itu adalah Allah penolong dan pengharapannya yang tetap setia untuk selama-lamanya di dalam memenuhi seluruh aspek kebutuhan hidup umat manusia; tidak ada yang terlepas dari tangan Allah. Bahkan Allah membalikkan konsep ukuran manusia dengan menjaga anak-anak yatim, para janda, yang selama ini menurut ukuran manusia adalah orang-orang yang tidak memiliki kelayakan hidup. Dalam pandangan Allah, mereka semua layak menerima kelayakan hidup dengan cara mereka selalu menggantungkan dan menyerahkan hidup sepenuhnya kedalam tangan Tuhan yang selalu memberikan pertolongan bagi orang yang membutuhkan.
Tidak salah jika pemazmur memulai dan mengakhiri Mazmur 146 ini dengan kata "Haleluya (Praise the Lord)" karena pujian kepada Allah membawa kita untuk memfokus diri kepada Allah, dan selalu merasakan pertolongan Tuhan, serta mengubah pandangan hidup kita bahwa kelayakan hidup itu semata-mata dilihat dari pandangan Allah (perspektif), bukan dalam pandangan (perspektif) manusia.
Dr. James Dobson mengatakan kita harus lebih mengutamakan untuk mencapai the value of life (nilai hidup di dalam pandangan Tuhan) daripada mencapai the standard of life (standar hidup dalam pandangan manusia).
Bidang Kebersamaan - Pdt. Tjong Wun Jen -
(sumber: Warta Gereja GII Hok Im Tong, 34/2005 21 Agustus 2005 )
0 comments:
Post a Comment