Hal melepaskan diri dari pengharapan yang sia-sia dan kecongkakan

  • Sungguh bodohlah orang yang menaruh harapannya kepada sesama manusia atau makhluk Tuhan lainnya.
      Baiklah kita jangan merasa malu melayani orang lain demi cinta kasih akan Yesus Kristus dan dipandang sebagai orang miskin di dunia ini.
      Janganlah kita bersandar atas diri sendiri, melainkan taruhlah harapan kita hanya kepada Allah. Apabila kita bekerja sebaik-baiknya dengan segala tenaga yang ada pada kita, niscaya Tuhan membantu kemauan kita yang baik itu.
      Janganlah kita terlalu percaya akan pengetahuan kita atau akan kecerdasan orang, tetapi letakkanlah kepercayaan kita kepada rahmat Allah. Allah membantu mereka yang rendah hati, tetapi merendahkan mereka yang meninggikan dirinya.
  • Hendaknya kita jangan membanggakan diri atas :
      Kekayaan jika kita memilikinya, janganlah merasa bangga akan sahabat-sahabat yang berkuasa, berpangkat dan sebagainya, melainkan banggalah akan Tuhan yang memberikan segala kebutuhan kita, kecuali itu bahkan masih menganugerahkan diriNya sendiri kepada kita.
      Janganlah kita membanggakan kekuatan atau keelokan badan kita yang karena penyakit sedikit saja mudah menjadi rusak dan jelek.
      Hendaknya kita juga jangan sombong atas kecakapan atau kepandaian yang ada pada kita. Kepuasan serupa itu menyebabkan kita kurang berkenan di mata Tuhan, yang memang menjadi sumber segala baik yang ada pada kita.
    • Janganlah beranggapan, bahwa diri kita lebih baik daripada diri orang lain, agar supaya kita dalam pandangan Tuhan, yang mengetahui segala yang ada di dalam hati sanubari manusia, tidak lebih jelek daripada orang-orang lain.
        Janganlah kita menyombongkan diri atas pekerjaan kita yang baik, sebab pertimbangan Tuhan berlainan dengan orang. Seringkali terjadi, bahwa sesuatu yang disukai orang tiada berkenan kepada Allah.
        Andaikata kita memiliki sesuatu kebaikan, hendaklah kita pikirkan, bahwa orang lain memiliki kebaikan lebih banyak. Jadi dengan demikian kita tetap rendah hati.
        Tidak ada jeleknya, apabila kita menganggap diri kita lebih rendah daripada orang lain. Sebaliknya sangatlah merugikan, apabila kita menempatkan diri kita meskipun hanya di atas satu orang lain saja.
        Ketentraman hati selalu ada pada orang yang rendah hati. Tetapi di dalam dada seorang yang congkak seringkali membara rasa iri hati, dengki dan sakit hati.

      Diambil dari “Mengikuti Jejak Kristus”
      Karya: Thomas A Kempis

      Sumber: Warta gereja GII Hok Im Tong 06/2006, 5 Februari 2006

      ::Go Top::

      Muliakanlah TUHAN dengan hartamu

      Amsal 3:9-10

      Martin Luther pernah mengatakan “manusia membutuhkan tiga pertobatan, yaitu pertobatan hati, pertobatan akal budi dan pertobatan dompet, dari ketiga hal ini kemungkinan besar kita orang-orang modern menemukan bahwa pertobatan dompet adalah yang paling sulit”.

      Apa yang dikatakan oleh Martin Luther adalah suatu realita dalam hidup manusia karena ada banyak orang tidak dapat memuliakan Tuhan oleh karena harta mereka. Harta dan kekayaan telah mengambil posisi yang prioritas dalam hidup manusia, dan posisi Tuhan sebagai sumber segala-galanya telah disisikan.

      Allah memanggil dan memilih kita bukan hanya untuk menikmati anugrah keselamatan kekal dari Allah, tetapi di panggil untuk memuliakan Dia dalam segala aspek kehidupannya. “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu” (Amsal 3:10).
      Mengapa kita harus memuliakan Tuhan dengan harta kita? Karena :

      • Allah adalah sumber berkat
        Alkitab menegaskan bahwa Allah adalah sumber berkat. Allah memenuhi kebutuhan manusia dengan berkat rohani dan jasmani dan apa yang telah diberikan Allah kepada manusia adalah yang terbaik (Matius 6:32). Segala yang diciptakan Allah dimaksudkan untuk memberkati dan memperkaya kehidupan manusia, karena itu kita harus memuliakan Tuhan dengan segala harta kita.
      • Allah adalah pemilik harta kita
        Berkat Allah terjalin erat dengan kepemilikan-Nya. Alkitab dengan jelas mengungkapkan tentang hak Allah yang mutlak atas harta milik kita. Kepada Ayub Allah mengatakan “Apa yang ada di seluruh kolong langit adalah kepunyaanKu." (Ayub 41:2). Pemazmur juga mengakui “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya” (Mazmur 24:1) bahkan hidup dan mati kitapun milik Tuhan (Roma 14:8). Jika Allah empunya bumi serta isinya dan menguasai hidup dan mati kita, maka harta dan kekayaan kita pun adalah milik Allah, respon kita adalah memuliakan Dia dalam segala hal.
      • Belajar untuk mempercayai Allah sepenuhnya
        Harta dan kekayaan kita dapat digunakan Allah untuk membangun kepercayaan kita. Ketika kita tidak terikat dan dikuasai oleh hal-hal materi maka kita akan dimampukan untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan melalui harta kita dan kita tidak akan mengalami kekekurangan. Paulus dalam hidup dan pelayanannya belajar untuk mempercayai Allah sepenuhnya bahwa “Allah akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulian-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19).

      Amin.

      Ev.Badrin Susanto(Bidang Kebaktian)

      Sumber: Warta gerja GII Hok Im Tong 05/2006, 29 Januari 2006


      Berbahagialah Kamu

      “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3)

      Istilah: Miskin di hadapan Allah (The poor in Sprit); di dalam Injil Lukas diterjemahkan orang miskin (poor/beggar). Ini menunjukan adanya dua macam jenis kemiskinan yaitu: Kemiskinan secara materi-tak berharta benda; serba kekurangan dan miskin secara rohani-kebangkrutan moral; hidup dalam ketidak benaran. Namun kedua macam kemiskinan ini memiliki bobot pemahaman teologis yang sama yaitu: Those who because of sustained economic privation and social distress have confidence only in God (Orang-orang yang karena dasarnya kekurangan ekonomi dan tekanan secara sosial yang memiliki keyakinan hanya di dalam Allah saja). Perhatikan: Only in God (hanya di dalam Allah saja); mereka berharap untuk mendapatkan belas kasihan dan kemurahan Allah dalam hidup mereka.

      Konseptualnya jelas: Ketidak berdayaan dan ketidak mampuan manusia. Inilah yang menjadi “kunci” pembuka untuk dapat melihat dan mengalami “kedalam” kehandalan (kemampuan) dari Allah didalam memberikan pertolongan. Pertolongan yang akan diberikan jelas hanya kepada orang-orang yang rendah hati (Yakobus 4:6b), yang lemah (II Korintus 12:10), yang bodoh (I Korintus1:18), yang tertindas dan miskin (Mazmur 72:12-13); serta orang yang sakit dan tertawan (Lukas 4:19). Semua orang-orang ini akan menerima tahun rahmat Tuhan. Dan menjadi “objek” perhatian Allah.

      Ini bukan berarti mendiskriditkan orang yang pandai, bijak, kaya maupun kuat. Sekali-kali tidak! Tetapi yang ingin diungkapkan adalah mana yang harus dipilih dan diandalkan: Allah atau mamon
      (Matius 6:24)
      . Kalau mamon perlu kuatir sedangkan Allah tidak perlu kuatir (bnd Yohanes14:1 perhatikan istilah: Janganlah hatimu gelisah). Seperti seorang anak yang mengandalkan bapanya; demikian juga orang yang miskin hanya mengandalkan Allah saja sebagai: Pencipta sekaligus Bapa yang baik.

      Dikatakan bahagia, karena ada alasan yang mendasar: Pertama, karena ADA ALLAH. Perhatikan ungkapan: Di hadapan Allah. Kalau di hadapan manusia kemungkinan orang yang miskin akan dihina, dipermalukan, diperolok-olok, dibuang serta pulang dengan tangan hampa. Tapi di hadapan Allah, justu sebaliknya diterima, dikasihi dan diberikan pertolongan. Allah tidak akan memalingkan mukaNya. Kedua, karena ADA TEMPAT. Tempat yang disediakan adalah: Kerajaan Sorga. Menarik!, istilah: Kerajaan Sorga dikatakan menjadi KEPUNYAN orang-orang ini. Artinya: Kalau orang miskin ini tidak mempunyai harta di dalam dunia; maka Tuhan akan menggantinya (menyediakan) “harta Sorgawi” yaitu: Keselamatan – Hidup kekal dan menjadi Anak Allah (bnd pengalaman Lazarus dan orang kaya-Lukas 16:19-31).

      Perenungan yang perlu dipikirkan adalah: Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya dihadapan Allah? Ada orang yang kaya di hadapan manusia; tetapi sebetulnya miskin di hadapan Allah. Tetapi sebaliknya ada orang yang miskin di hadapan manusia; tetapi kaya dihadapan Allah. Ada nilai-nilai Kerajaan Sorga. Itulah yang seharusnya digunakan(diajarkan); bukan nilai-nilai di dalam dunia.

      Kepentingannya jelas: Mana yang harus dicari perkara yang diatas atau perkara yang dibawah(bnd Kolese 3:1-2). Kalau perkara yang diatas ADA ALLAH sebagai sumber pengharapan dan pertolongan. Miskin dihadapan Allahkah saudara? Nikmatilah kebahagiaan yang Allah sediakan bagi saudara yang “miskin”. Soli Deo Gloria. Imanuel
      Pdt. Ling Hie Ping (Bidang Penggembalaan)

      Sumber: – Warta Gereja GII Hok Im Tong 07/2006, 12 Februari 2006

      Kelayakan Hidup : Apakah Milik Semua Orang ?

      Mazmur 146 : 1 - 10

      Ukuran yang paling dasar yang sering dipakai oleh manusia untuk menyatakan bahwa seorang ini hidup layak atau tidak adalah masalah apakah seorang ini mendapatkan atau memiliki kecukupan dalam hal sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (rumah) serta kesejahteraan dan keamanan. Maaf, kalau itu yang menjadi ukurannya, berarti, sekali lagi maaf, banyak orang yang belum yang belum menikmati kelayakkan hidup. Tetapi, apakah ukuran itu juga yang dipakai oleh Allah? Ternyata tidak, Allah pribadi yang mutlak untuk memberikan penilaian yang benar, menilai seseorang memiliki kelayakan hidup jikalau dia selalu mengasihi, menggantungkan, atau mengandalkan hidupnya kepada Allah.

      Mazmur 146 memberitahukan kepada kita bahwa seharusnya kelayakan hidup itu menjadi milik semua orang jikalau semua orang menjadi milikNya Tuhan dan selalu hidup dekat dengan Tuhan. Mengapa?

      • Karena Tuhan Allah (dalam Tuhan Yesus) adalah sumber keselamatan.
        Pemazmur menyatakan bahwa Allah-lah penyelamat dan pembebas sejati, bukan manusia termasuk juga para bangsawan Inilah awal mula hidup baru yang layak di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa apa artinya seseorang memiliki harta di dunia jikalau ia kehilangan nyawanya. Raja Alexander Agung pernah berkata bahwa manusia lahir dengan tangan kosong pada waktu mati pun akan pulang dengan tangan kosong. Jadi yang akan dinilai Allah adalah apakah orang tersebut sudah menjadi milik Tuhan atau belum, bukan seberapa besar kekayaan, kedudukan yang dia dapatkan selama berada di dunia. Jikalau seseorang sudah diselamatkan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dia sudah mendapatkan kelayakan hidup di hadapan Tuhan.

      • Karena Tuhan Allah sumber pengharapan dan pertolongan.
        Pemazmur menggambarkan Allah pencipta itu adalah Allah penolong dan pengharapannya yang tetap setia untuk selama-lamanya di dalam memenuhi seluruh aspek kebutuhan hidup umat manusia; tidak ada yang terlepas dari tangan Allah. Bahkan Allah membalikkan konsep ukuran manusia dengan menjaga anak-anak yatim, para janda, yang selama ini menurut ukuran manusia adalah orang-orang yang tidak memiliki kelayakan hidup. Dalam pandangan Allah, mereka semua layak menerima kelayakan hidup dengan cara mereka selalu menggantungkan dan menyerahkan hidup sepenuhnya kedalam tangan Tuhan yang selalu memberikan pertolongan bagi orang yang membutuhkan.

      Tidak salah jika pemazmur memulai dan mengakhiri Mazmur 146 ini dengan kata "Haleluya (Praise the Lord)" karena pujian kepada Allah membawa kita untuk memfokus diri kepada Allah, dan selalu merasakan pertolongan Tuhan, serta mengubah pandangan hidup kita bahwa kelayakan hidup itu semata-mata dilihat dari pandangan Allah (perspektif), bukan dalam pandangan (perspektif) manusia.

      Dr. James Dobson mengatakan kita harus lebih mengutamakan untuk mencapai the value of life (nilai hidup di dalam pandangan Tuhan) daripada mencapai the standard of life (standar hidup dalam pandangan manusia).

      Bidang Kebersamaan - Pdt. Tjong Wun Jen -

      (sumber: Warta Gereja GII Hok Im Tong, 34/2005 21 Agustus 2005 )

      ATRIBUT-ATRIBUT ALLAH

      Atribut-Atribut Allah

      Sebagai oknum yang tertinggi, Allah memiliki atribut-atribut jati diriNya, yang merupakan karakteristik dan kualitas yang tetap dari diri Allah. Attribut-atribut Allah dapat digolongkan atas :


      Atribut-atribut metafisis
      (atribut-atribut metafisis adalah atribut-atribut yang diluar jangkauan pemahaman manusia, karena atribut-atribut ini sama sekali tidak dimiliki ciptaan).

        • Allah tidak tergantung pada apapun/self-exisent (Kis 17:24:25). Atribut ini disebut juga sebagai atribut independen. Allah tidak tergantung pada apapun diluar diriNya. Keberadaan Allah tidak disebabkan oleh apapun dan Allah tidak harus membutuhkan ciptaan bagi kepentinganNya.
        • Allah tidak terbatas dalam segala hal, dalam kuasaNya, pengetahuanNya, dan keberadaanNya. Allah bersifat maha kuasa / Omnipotence ( Ayb 6:14; 9:4; Why 1:8; 19:6). Tidak ada kuasa apapun, termasuk kuasa iblis dan setan-setan, yang melampaui kuasa Allah. Ia adalah Tuan dan Raja atas dunia dan alam semesta ini. Allah juga bersifat maha tahu / Omniscience ( Ayb 37:16; 1 Yoh 3:20). Allah mengetahui segala peristiwa dengan sempurna, baik yang sudah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Bahkan ia mengetahui pikiran dan hati setiap orang ( Mzm 44:22; Wahyu 2:23). Oleh sebab itu, tidak satupun dari perbuatan kita yang luput dari pengetahuan dan perhatian Allah. Karena ketidakterbatasanNya Allah juga bersifat ada / Omnipresence (Ul 10:14; Mzm 139:7-10). Segenap keberadaan Allah hadir dimana saja dan kapan saja.
        • Allah itu Esa (Ul 6:4; 1Tim 2:5). Allah ada dalam keberadaan yang termulia dan unik, sehingga tidak ada sesuatu apapun di luar diri Allah yang setara denganNya.
        • Allah tidak berubah (Rom 1:23; 1Tim 6:16; Yak 1:17). Allah bersifat sempurna, sehingga Ia tidak mengalami proses dan perubahaan. Ia tidak fana. Artinya Ia tidak mengalami kerusakan (incorruptible) dan tidak mengalami kematian (immortality).
        • Allah berada dari kekal sampai kekal (Yes 40:28; Yer 10:10; Dan 6:7; Why 1:8; 4:8). Kekekalan Allah bukan saja berarti keberadaanNya tidak berakhir, melainkan juga keberadaanNya tidak bermula. Oleh karena itu, keberadaan Allah tidak disebabkan oleh sesuatu apapun.

      Atribut-atribut moral
      (atribut-atribut yang menunjukan karakteristik dan kualitas moral dan kebajikan Allah. Atribut-atribut ini menyatakan kepada kita bahwa Allah adalah Allah yang sempurna dalam hikmat, keadilan, kebenaran dan kebajikan moralNya). Atribut-atribut ini misalnya :

        • Allah itu sempurna. Ia tidak pernah berencana dan bertindak salah dalam kehendak dan rencanaNya
        • Allah itu berhikmat (Ayb 9:4; Rom 16:27). Ia mengetahui apa yang terbaik, bertindak dan menghendaki yang terbaik.
        • Allah penuh kebenaran (Tit 1:2; Ibr 6:18). Ia tidak pernah berkata atau bertindak salah.
        • Allah penuh keadilan (Kej 18:25; Ul 32:4). Ia senantiasa bertindak, menetapkan hokum. Menghakimi dan menghukum dengan adil.
        • Allah kudus suci (Im 11:45; 1Sam 2:2; Yes 6:3; Wah 4:8). Ia secara total dan mutlak tidak tercemar oleh dosa; dan pada diri Allah sama sekali tidak ada dosa.
        • Allah penuh kebaikan (Mzm 100:5; Luk 18:19). Ia tidak pernah bermaksud dan bertindak jahat atau merugikan ciptaanNya. Ia penuh kebaikan dan kesabaran. Namun demikian, Allah dapat bersikap keras dalam menghukum manusia yang menentangNya dan mendidik orang-orang percaya (Rom 11:22).
        • Allah itu kasih (Yoh 3:16; 1 Yoh 4:8). Ia menyatakan kasihNya yang terbesar dengan memberikan jalan keselamatan (penebusan dosa) dan anugrah (grace) keselamatan kepada kita yang berdosa, yang seharusnya mendapat hukuman. Kasih Allah juga nyata dalam belas kasihNya (mercy) terhadap mereka yang tertindas dan dalam penderitaan (2 Kor 1:3). Wujud kasih Allah juga nyata dalam kesabaranNya (patience) dengan cara menanti dan memberikan kesempatan pertobatan serta menahan penghukuman / murkaNya (Kel 34:6; Mzm 103:8).
        • Allah berdaulat (Rom 9:11-21). Ia mempunyai kekuasaan tertinggi atas segala sesuatu (sovereignty of God). Tidak ada aspek atau bagian dari realitas ciptaanNya dimana Allah tidak berkuasa dari sejak dahulu, sekarang atau yang akan dating. Ia adalah Raja atas seluruh ciptaaNya. Ia berdaulat melakukan kehendak dan rencanaNya atas dunia dan umatNya. Ia berdaulat menjawab dan menolak permintaan dan doa kita (Ul 3:23-29; Dan 3:16-18), sesuai dengan kehendak dan rencanaNya (Yes 55:8).
      (Sumber: Buku Pedoman Katekisasi - Pembinaan Jemaat - GII Hok Im Tong)