MENGENAL ALLAH

Pengenalan yang Tak Sempurna

Allah adalah Pencipta dan Penguasa alam semesta. Dialah yang memberi nafas hidup kepada kita dan segala ciptaan bergantung kepadaNya (Kis 17:28). Ia adalah Allah yang kita sembah. Lebih daripada itu, ia telah memberi anugerah keselamatan kepada kita; dalam kasihNya Ia telah memelihara kita dan melimpahkan rahmat dan kebaikanNya kepada kita (Mzm 40:6; Rat 3:22-23).

Keselamatan yang kita terima dalam Yesus Kristus, tidak dapat dipisahkan dari pengenalan akan Allah yang benar (Yoh 17:3). Karena panggilan keselamatan dari Allah atas kita bukan hanya untuk menikmati anugerah dan kebaikanNya, melainkan juga untuk mengasihiNya dan memperkenankanNya (Mat 22:34-40). Bagaimana kita dapat mengasihiNya tanpa kita mengenalNya? Pengenalan akan Allah bukanlah pengenalan yang dangkal, melainkan merupakan pengenalan yang bertumbuh makin mendalam (Kol 1:10).

Pembicaraan tentang Allah merupakan hal yang abstrak. Karena Allah bukanlah obyek yang dapat dianalisa, diraba, dilihat dan diobservasi. Namun ini tidak berarti kita dapat memahami hal-hal tentang diri Allah. Kita dapat mengenal Allah dan memahami hal-hal tentang diri Allah, tetapi bukan berdasarkan upaya rasio dan pengamatan kita, melainkan berdasarkan penyataan Allah sendiri kepada kita melalui wahyu dan FirmanNya, yaitu Alkitab.

Siapakah Allah? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan sempurna. Musa pernah bertanya kepada Allah tentang namaNya. Tetapi Allah menjawab: "Aku adalah Aku" (Kel 3:14). Jawaban Allah ini mengandung makna bahwa Allah adalah Pribadi yang tidak dapat dibatasi dengan penjelasan kata-kata. Hal ini tidak menunjukan bahwa kita tidak dapat memahami dan mengenal Pribadi Allah. Kita dapat memahami dan mengenal Allah. Tetapi kita tidak dapat sepenuhnya atau dengan sempurna memahami hal-hal tentang Allah (Ul 29:29). Oleh sebab itu, tidak seorangpun yang bisa berkata bahwa ia telah mengenal atau memahami hal-hal tentang Allah dengan sempurna. Bahkan jikalau kita tanpa dosa sama sekalipun atau dalam hidup hidup yang kekal kelak, kita tidak dapat mengenal dan memahami Allah dengan sempurna.

Ketidakmampuan manusia untuk memahami Allah dengan sempurna, bukan karena keberdosaan kita, melainkan karena ketidakterbatasan Allah dan keterbatasana kita. Ciptaan (manusia) yang terbatas tidak mungkin dapat memahami sepenuhnya Pencipta (Allah) yang tidak terbatas. Meskipun kita tidak dapat mengenal Allah secara sempurna, tetapi kita dapat mengenal hal-hal yang benar tentang diri Allah. Karena Alkitab sebagai Firman Allah mengungkapkan ini semua. Misalnya, Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8); Allah adalah Roh (Yoh 4:24); Allah adil dan benar (Rom 3:4).

(Sumber: Buku Pedoman Katekisasi Pembinaan Jemaat - GII Hok Im Tong)

Apa Itu Kebenaran ?

Yohanes 18:37-38


“Kata Pilatus kepada-Nya : “Apakah kebenaran itu?”. (Yohanes 18:38a)

Di dalam bukunya yang berjudul : “Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah”, Arthur G Holmes mengatakan : Sekarang orang tidak lagi mempercayai lagi kebenaran. Ketidak percayaan ini kalau diruntut bermuara pada hilangnya konsepsi yang memadahi tentang kebenaran itu sendiri.

Setiap kali kebenaran itu dinyatakan; maka yang terjadi justru sebaliknya yaitu adanya “kebingungan” serta “kebiasaan” tentang hakekat kebenaran itu sendiri. Ada perpektif, tolak ukur, dan konseptual berbeda yang digunakan untuk menerangkan apa itu kebenaran serta dari mana kebenaran itu berasal. Nilai-nilai relative yang berkembang pada saat ini, adanya “kebenaran” yang berdasarkan mayoritas/suara yang besar; serta munculnya aliran yang disebut etika situasi; semua menjadikan kebenaran itu makin “terpenggal-penggal“ sehingga menjadi saling melawan.

Akankah segala kebenaran itu adalah kebenaran Allah ?. Jawabanya : Seharusnya demikian ? Tetapi ketika kebenaran-kebenaran yang berasal dari Allah ini terkontaminasi oleh dosa; maka penyelewengan dan kerusakannya mulai terjadi dan melebar. Sulit untuk menemukan “keaslian” tentang kebenaran itu sendiri.

Pertanyaan yang diajukan oleh Pontius Pilatus yang mempertanyakan : Apakah itu kebenaran ?, jelas memberikan dua impiliksi yang sangat mendalam : pertama, pertanyaan ini menunjukan ada “ketidaktahuan” tentang apa itu kebenaran. Sehingga orang yang tidak tahu mulai mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang kebenaran itu sendiri. Kalau ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan; maka perlu mencari dan menemukan dimana kebenaran itu dapat didapatkan. Jawabannya jelas yaitu : Hanya pada Kristus. Didalam Yohanes 14 : 6 Tuhan Yesus mengatakan : Akulah kebenaran. Kristus adalah finalitas kebenaran yang harus ditemukan oleh manusia yang mencarinya.

Kedua, pertanyaan ini menunjukkan adanya, “banyak” yang dinamakan kebenaran. Kalau melihat konteksnya; maka ada kebenaran yang diajukan yaitu : Kebenaran hukum Taurat (legalistic) yang diwakili oleh para agamawan/rohaniawan – orang Farisi, Ahli Taurat; Kebenaran berdasarkan undang-undang pemerintah, yang diwakili Pontius Pilatus; serta Kebenaran power people yang diwakili oleh orang banyak yang pada saat itu berteriak-teriak: Salibkan Yesus, salibkan Yesus. Ketika Pontius Pilatus melihat hal ini, dia memaparkan dari sekian banyak kebenaran; mana itu kebenaran “yang lebih” diatas semuanya. Kata sederhananya : Mana yang lebih berotoritas untuk ditaati dan pegang.

Paulus didalam Kisah 23:1 mengatakan : ……., sampai pada hari ini aku tetap hidup dengan hari nurani yang murni dihadapan Allah. Prinsipnya jelas yaitu : Bagaimana kita hidup di hadapan Allah. Hidup di hadapan Allah menjadikan setiap manusia; khususnya Anak Tuhan untuk memiliki hati nurani yang murni untuk melihat dan melakukan kebenaran itu dari prespektf Allah – yaitu Firman Tuhan. Ada penaklukan diri pada otoritas kebenaran Firman Tuhan. Karena, salah satu pembuktian kongkret tentang kebenaran adalah apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus : “Jika kamu mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Perhatikan istilah : Memerdekakan. Apakah saudara orang merdeka ? ataukah ada ikatan yang membelenggu hidupmu ? Soli Deo Gloria

– Pdt. Ling Hie Ping (Bidang Kebersamaan)

– GII HIT Warta Gereja 03/2006 15 Jan 2006 –