Yohanes 18:37-38
Kata Pilatus kepada-Nya : Apakah kebenaran itu?. (Yohanes 18:38a)
Di dalam bukunya yang berjudul : Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah, Arthur G Holmes mengatakan : Sekarang orang tidak lagi mempercayai lagi kebenaran. Ketidak percayaan ini kalau diruntut bermuara pada hilangnya konsepsi yang memadahi tentang kebenaran itu sendiri.
Setiap kali kebenaran itu dinyatakan; maka yang terjadi justru sebaliknya yaitu adanya kebingungan serta kebiasaan tentang hakekat kebenaran itu sendiri. Ada perpektif, tolak ukur, dan konseptual berbeda yang digunakan untuk menerangkan apa itu kebenaran serta dari mana kebenaran itu berasal. Nilai-nilai relative yang berkembang pada saat ini, adanya kebenaran yang berdasarkan mayoritas/suara yang besar; serta munculnya aliran yang disebut etika situasi; semua menjadikan kebenaran itu makin terpenggal-penggal sehingga menjadi saling melawan.
Akankah segala kebenaran itu adalah kebenaran Allah ?. Jawabanya : Seharusnya demikian ? Tetapi ketika kebenaran-kebenaran yang berasal dari Allah ini terkontaminasi oleh dosa; maka penyelewengan dan kerusakannya mulai terjadi dan melebar. Sulit untuk menemukan keaslian tentang kebenaran itu sendiri.
Pertanyaan yang diajukan oleh Pontius Pilatus yang mempertanyakan : Apakah itu kebenaran ?, jelas memberikan dua impiliksi yang sangat mendalam : pertama, pertanyaan ini menunjukan ada ketidaktahuan tentang apa itu kebenaran. Sehingga orang yang tidak tahu mulai mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang kebenaran itu sendiri. Kalau ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan; maka perlu mencari dan menemukan dimana kebenaran itu dapat didapatkan. Jawabannya jelas yaitu : Hanya pada Kristus. Didalam Yohanes 14 : 6 Tuhan Yesus mengatakan : Akulah kebenaran. Kristus adalah finalitas kebenaran yang harus ditemukan oleh manusia yang mencarinya.
Kedua, pertanyaan ini menunjukkan adanya, banyak yang dinamakan kebenaran. Kalau melihat konteksnya; maka ada kebenaran yang diajukan yaitu : Kebenaran hukum Taurat (legalistic) yang diwakili oleh para agamawan/rohaniawan orang Farisi, Ahli Taurat; Kebenaran berdasarkan undang-undang pemerintah, yang diwakili Pontius Pilatus; serta Kebenaran power people yang diwakili oleh orang banyak yang pada saat itu berteriak-teriak: Salibkan Yesus, salibkan Yesus. Ketika Pontius Pilatus melihat hal ini, dia memaparkan dari sekian banyak kebenaran; mana itu kebenaran yang lebih diatas semuanya. Kata sederhananya : Mana yang lebih berotoritas untuk ditaati dan pegang.
Paulus didalam Kisah 23:1 mengatakan :
., sampai pada hari ini aku tetap hidup dengan hari nurani yang murni dihadapan Allah. Prinsipnya jelas yaitu : Bagaimana kita hidup di hadapan Allah. Hidup di hadapan Allah menjadikan setiap manusia; khususnya Anak Tuhan untuk memiliki hati nurani yang murni untuk melihat dan melakukan kebenaran itu dari prespektf Allah yaitu Firman Tuhan. Ada penaklukan diri pada otoritas kebenaran Firman Tuhan. Karena, salah satu pembuktian kongkret tentang kebenaran adalah apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus : Jika kamu mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Perhatikan istilah : Memerdekakan. Apakah saudara orang merdeka ? ataukah ada ikatan yang membelenggu hidupmu ? Soli Deo Gloria
Pdt. Ling Hie Ping (Bidang Kebersamaan)
GII HIT Warta Gereja 03/2006 15 Jan 2006
0 comments:
Post a Comment