“Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3)
Istilah: Miskin di hadapan Allah (The poor in Sprit); di dalam Injil Lukas diterjemahkan orang miskin (poor/beggar). Ini menunjukan adanya dua macam jenis kemiskinan yaitu: Kemiskinan secara materi-tak berharta benda; serba kekurangan dan miskin secara rohani-kebangkrutan moral; hidup dalam ketidak benaran. Namun kedua macam kemiskinan ini memiliki bobot pemahaman teologis yang sama yaitu: Those who because of sustained economic privation and social distress have confidence only in God (Orang-orang yang karena dasarnya kekurangan ekonomi dan tekanan secara sosial yang memiliki keyakinan hanya di dalam Allah saja). Perhatikan: Only in God (hanya di dalam Allah saja); mereka berharap untuk mendapatkan belas kasihan dan kemurahan Allah dalam hidup mereka.
Konseptualnya jelas: Ketidak berdayaan dan ketidak mampuan manusia. Inilah yang menjadi “kunci” pembuka untuk dapat melihat dan mengalami “kedalam” kehandalan (kemampuan) dari Allah didalam memberikan pertolongan. Pertolongan yang akan diberikan jelas hanya kepada orang-orang yang rendah hati (Yakobus 4:6b), yang lemah (II Korintus 12:10), yang bodoh (I Korintus1:18), yang tertindas dan miskin (Mazmur 72:12-13); serta orang yang sakit dan tertawan (Lukas 4:19). Semua orang-orang ini akan menerima tahun rahmat Tuhan. Dan menjadi “objek” perhatian Allah.
Ini bukan berarti mendiskriditkan orang yang pandai, bijak, kaya maupun kuat. Sekali-kali tidak! Tetapi yang ingin diungkapkan adalah mana yang harus dipilih dan diandalkan: Allah atau mamon (Matius 6:24). Kalau mamon perlu kuatir sedangkan Allah tidak perlu kuatir (bnd Yohanes14:1 perhatikan istilah: Janganlah hatimu gelisah). Seperti seorang anak yang mengandalkan bapanya; demikian juga orang yang miskin hanya mengandalkan Allah saja sebagai: Pencipta sekaligus Bapa yang baik.
Dikatakan bahagia, karena ada alasan yang mendasar: Pertama, karena ADA ALLAH. Perhatikan ungkapan: Di hadapan Allah. Kalau di hadapan manusia kemungkinan orang yang miskin akan dihina, dipermalukan, diperolok-olok, dibuang serta pulang dengan tangan hampa. Tapi di hadapan Allah, justu sebaliknya diterima, dikasihi dan diberikan pertolongan. Allah tidak akan memalingkan mukaNya. Kedua, karena ADA TEMPAT. Tempat yang disediakan adalah: Kerajaan Sorga. Menarik!, istilah: Kerajaan Sorga dikatakan menjadi KEPUNYAN orang-orang ini. Artinya: Kalau orang miskin ini tidak mempunyai harta di dalam dunia; maka Tuhan akan menggantinya (menyediakan) “harta Sorgawi” yaitu: Keselamatan – Hidup kekal dan menjadi Anak Allah (bnd pengalaman Lazarus dan orang kaya-Lukas 16:19-31).
Perenungan yang perlu dipikirkan adalah: Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya dihadapan Allah? Ada orang yang kaya di hadapan manusia; tetapi sebetulnya miskin di hadapan Allah. Tetapi sebaliknya ada orang yang miskin di hadapan manusia; tetapi kaya dihadapan Allah. Ada nilai-nilai Kerajaan Sorga. Itulah yang seharusnya digunakan(diajarkan); bukan nilai-nilai di dalam dunia.
Kepentingannya jelas: Mana yang harus dicari perkara yang diatas atau perkara yang dibawah(bnd Kolese 3:1-2). Kalau perkara yang diatas ADA ALLAH sebagai sumber pengharapan dan pertolongan. Miskin dihadapan Allahkah saudara? Nikmatilah kebahagiaan yang Allah sediakan bagi saudara yang “miskin”. Soli Deo Gloria. Imanuel
Sumber: – Warta Gereja GII Hok Im Tong 07/2006, 12 Februari 2006
Istilah: Miskin di hadapan Allah (The poor in Sprit); di dalam Injil Lukas diterjemahkan orang miskin (poor/beggar). Ini menunjukan adanya dua macam jenis kemiskinan yaitu: Kemiskinan secara materi-tak berharta benda; serba kekurangan dan miskin secara rohani-kebangkrutan moral; hidup dalam ketidak benaran. Namun kedua macam kemiskinan ini memiliki bobot pemahaman teologis yang sama yaitu: Those who because of sustained economic privation and social distress have confidence only in God (Orang-orang yang karena dasarnya kekurangan ekonomi dan tekanan secara sosial yang memiliki keyakinan hanya di dalam Allah saja). Perhatikan: Only in God (hanya di dalam Allah saja); mereka berharap untuk mendapatkan belas kasihan dan kemurahan Allah dalam hidup mereka.
Konseptualnya jelas: Ketidak berdayaan dan ketidak mampuan manusia. Inilah yang menjadi “kunci” pembuka untuk dapat melihat dan mengalami “kedalam” kehandalan (kemampuan) dari Allah didalam memberikan pertolongan. Pertolongan yang akan diberikan jelas hanya kepada orang-orang yang rendah hati (Yakobus 4:6b), yang lemah (II Korintus 12:10), yang bodoh (I Korintus1:18), yang tertindas dan miskin (Mazmur 72:12-13); serta orang yang sakit dan tertawan (Lukas 4:19). Semua orang-orang ini akan menerima tahun rahmat Tuhan. Dan menjadi “objek” perhatian Allah.
Ini bukan berarti mendiskriditkan orang yang pandai, bijak, kaya maupun kuat. Sekali-kali tidak! Tetapi yang ingin diungkapkan adalah mana yang harus dipilih dan diandalkan: Allah atau mamon (Matius 6:24). Kalau mamon perlu kuatir sedangkan Allah tidak perlu kuatir (bnd Yohanes14:1 perhatikan istilah: Janganlah hatimu gelisah). Seperti seorang anak yang mengandalkan bapanya; demikian juga orang yang miskin hanya mengandalkan Allah saja sebagai: Pencipta sekaligus Bapa yang baik.
Dikatakan bahagia, karena ada alasan yang mendasar: Pertama, karena ADA ALLAH. Perhatikan ungkapan: Di hadapan Allah. Kalau di hadapan manusia kemungkinan orang yang miskin akan dihina, dipermalukan, diperolok-olok, dibuang serta pulang dengan tangan hampa. Tapi di hadapan Allah, justu sebaliknya diterima, dikasihi dan diberikan pertolongan. Allah tidak akan memalingkan mukaNya. Kedua, karena ADA TEMPAT. Tempat yang disediakan adalah: Kerajaan Sorga. Menarik!, istilah: Kerajaan Sorga dikatakan menjadi KEPUNYAN orang-orang ini. Artinya: Kalau orang miskin ini tidak mempunyai harta di dalam dunia; maka Tuhan akan menggantinya (menyediakan) “harta Sorgawi” yaitu: Keselamatan – Hidup kekal dan menjadi Anak Allah (bnd pengalaman Lazarus dan orang kaya-Lukas 16:19-31).
Perenungan yang perlu dipikirkan adalah: Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya dihadapan Allah? Ada orang yang kaya di hadapan manusia; tetapi sebetulnya miskin di hadapan Allah. Tetapi sebaliknya ada orang yang miskin di hadapan manusia; tetapi kaya dihadapan Allah. Ada nilai-nilai Kerajaan Sorga. Itulah yang seharusnya digunakan(diajarkan); bukan nilai-nilai di dalam dunia.
Kepentingannya jelas: Mana yang harus dicari perkara yang diatas atau perkara yang dibawah(bnd Kolese 3:1-2). Kalau perkara yang diatas ADA ALLAH sebagai sumber pengharapan dan pertolongan. Miskin dihadapan Allahkah saudara? Nikmatilah kebahagiaan yang Allah sediakan bagi saudara yang “miskin”. Soli Deo Gloria. Imanuel
Pdt. Ling Hie Ping (Bidang Penggembalaan)
Sumber: – Warta Gereja GII Hok Im Tong 07/2006, 12 Februari 2006
0 comments:
Post a Comment